Penyusunan Jadwal Pembelajaran Kelas/ Mata Pelajaran

Jadwal pembelajaran kelas/mata pelajaran di Tahun Ajaran 2021/2022 menerapkan aturan bagi setiap warga satuan pendidikan untuk mengatur pola jadwal pembelajaran tiap kelas. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi penumpukan massa yang dapat mengakibatkan kerumunan. Aturan menjaga jarak diutamakan dengan mengatur alur masuk – selama – keluar kelas. Untuk itu, penyusunan jadwal pembelajaran kelas atau mata pelajaran diperlukan sebagai:

  1. Panduan teknis dalam melakukan pengaturan pergerakan peserta didik beserta guru di kelas/mata pelajaran untuk menghindari terciptanya kerumunan selama proses pembelajaran; dan
  2. Panduan teknis guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran di kelas/mata pelajaran sesuai dengan jadwal pembelajaran satuan pendidikan

Dengan mempertimbangkan tujuan pembelajaran, guru diharapkan mampu menyusun jadwal pembelajaran kelas atau mata pelajaran yang diampunya dengan melalui tahapan-tahapan berikut ini:

  1. Memastikan kesiapan protokol kesehatan di ruang kelas, terutama pengaturan tempat duduk dengan jarak 1,5 meter di antara setiap peserta didik serta protokol kesehatan yang harus dipenuhi di kelas
  2. Menyusun kelompok belajar per kelas dengan komposisi yang sesuai dengan jenjang kelas yang telah ditetapkan oleh satuan pendidikan. Jumlah peserta kelompok belajar disesuaikan dengan ketentuan protokol kesehatan yaitu maksimal 18 peserta didik dalam satu ruang kelas
  3. Menyusun jadwal PTM Terbatas sesuai dengan aturan jumlah PTM terbatas setiap minggu yang telah ditetapkan oleh satuan pendidikan. Guru memastikan alur masuk dan pulang antar kelompok belajar tidak menyebabkan kerumunan
  4. Menentukan durasi sesi PJJ sesuai dengan jenjang kelas yang telah ditetapkan oleh satuan pendidikan
  5. Menyusun jadwal PJJ sesuai dengan aturan jumlah PTM setiap minggu yang telah ditetapkan oleh satuan pendidikan
  6. Memetakan mata pelajaran pada sesi PTM Terbatas dan PJJ
  7. Menuliskan daftar nama peserta didik per kelompok belajar yang sudah ditentukan di setiap kelas
  8. Melakukan komunikasi terkait jadwal dan kebutuhan pembelajaran kelas atau mata pelajaran pada orang tua sehingga orang tua dapat mempersiapkan peserta didik secara fisik dan psikologis. 
  9. Menentukan durasi waktu sesi PTM Terbatas sesuai dengan jenjang kelas yang telah ditetapkan oleh satuan pendidikan untuk mengurangi risiko penularan.

Meskipun demikian dalam penerapan di sekolah dan kelas masing-masing nanti, guru dapat menyesuaikan jadwal pembelajaran dengan kondisi satuan pendidikan masing-masing. 

Rancangan Pembelajaran Kelas/ Mata Pelajaran Tahun Ajaran 2021/2022 untuk Guru

Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas/ Mata Pelajaran

Desain pembelajaran yang tercantum dalam sebuah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas atau mata pelajaran di Tahun Ajaran 2021/2022 merupakan desain pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan dan karakteristik peserta didiknya pada masa pandemi COVID-19. Pada Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTM terbatas), berbagai adaptasi pembelajaran dilakukan terutama untuk merespons dampak dari pembatasan waktu pembelajaran di kelas, penjadwalan per kelompok belajar, serta kondisi lainnya.

Di Tahun Ajaran 2021/2022, Panduan Pembelajaran Pauddikdasmen pada Masa Pandemi COVID-19 membantu guru untuk mendapatkan panduan teknis dalam menyusun RPP kelas/ mata pelajaran sesuai dengan pilihan kurikulum yang digunakan satuan pendidikan. Untuk lebih jelasnya, silakan membaca kembali Buku Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pauddikdasmen di Masa Pandemi COVID-19

Anda ingin dapat membuat RPP kelas/mata pelajaran dengan efektif? Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat membantu Anda untuk membuat RPP kelas atau Mata pelajaran.

Seperti yang telah disebutkan dalam langkah-langkah di atas, dalam RPP kelas atau mata pelajaran pada pembelajaran Tahun Ajaran 2021/2022, dirumuskan komponen-komponen minimal yang saling berkaitan yaitu:

  1. Tujuan Pembelajaran. Perumusan tujuan pembelajaran berpedoman pada Kurikulum yang telah dipilih dan ditetapkan oleh satuan pendidikan. 
  2. Penilaian Pembelajaran atau Asesmen. Penilaian pembelajaran terdiri:
    1. Asesmen diagnosis
    2. Asesmen formatif
    3. Asesmen sumatif
  1. Langkah-langkah Pembelajaran. Langkah pertama yang perlu guru lakukan adalah dengan terlebih dahulu menentukan komposisi PTM dan PJJ dalam pembelajaran campuran. Setelah itu kemudian merencanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan alur pembelajaran PAUDDIKDASMEN yang telah direkomendasikan, yang terdiri dari: Asesmen Diagnosis, Orientasi Kesiapan Belajar dan Psikososial, Pembelajaran (PTM/PJJ), Asesmen Formatif, Perbaikan atau Pengayaan Pembelajaran (PTM/PJJ) dan Asesmen Sumatif. 

Komposisi PTM Terbatas dan PJJ

Seperti yang telah Bapak dan Ibu Guru ketahui, pada pembelajaran Tahun Ajaran 2021/2022, strategi pembelajaran menggunakan strategi pembelajaran campuran yang terdiri atas Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTM terbatas) dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Oleh karena itu, guru perlu menentukan komposisi antara Pembelajaran Tatap Muka dan Pembelajaran Jarak Jauh. Penentuan komposisi tersebut dapat menggunakan sejumlah pertimbangan yaitu: 

  1. Jumlah kelompok belajar. Semakin banyak kelompok belajar maka semakin sedikit Pembelajaran tatap muka terbatas yang bisa difasilitasi oleh guru.
  2. Tingkat kemandirian peserta didik. Semakin mandiri peserta didik dalam belajar maka semakin semakin banyak Pembelajaran Jarak Jauh bisa dilakukan.
  3. Tingkat risiko pandemi. Semakin besar risiko pandemi COVID-19 maka semakin sedikit Pembelajaran Tatap Muka Terbatas bisa diadakan.

Menurut kajian yang dilakukan Stein dan Graham (2014), komposisi pembelajaran tatap muka terbatas dan pembelajaran jarak jauh yang direkomendasikan adalah 1: 3. Setiap 1 jam PTM bisa disertai dengan PJJ selama 3 jam. Meski demikian, guru bisa melakukan penyesuaian berdasarkan 3 kriteria tersebut. 

Mari kita pelajari lebih lanjut mengenai komposisi PTM dan PJJ dalam pembelajaran campuran melalui contoh kasus berikut ini.

Bapak/Ibu, apakah saat ini Anda sudah menganalisis kurikulum yang digunakan di satuan pendidikan Anda? Apakah Anda telah merencanakan asesmen diagnosis untuk melihat profil murid serta kebutuhannya? Setelah ini melakukan kedua hal ini, proses merancang pelaksanaan pembelajaran akan terasa lebih mudah. Dengan contoh kasus diatas, Anda diharapkan memiliki gambaran yang lebih utuh mengenai proses merancang pembelajaran di Tahun Ajaran 2021/2022.

Refleksi dan Perayaan Belajar 3 : Prinsip dan Strategi Pembelajaran Tahun Ajaran 2021/2022 untuk Guru

Selamat! Anda telah menyelesaikan kuis. Itu artinya, Anda telah mempelajari seluruh materi pada topik Prinsip dan Strategi Pembelajaran Tahun Ajaran 2021/2022 untuk Guru. Anda sekarang memiliki 3 lencana. Terima kasih! Anda telah berkomitmen menyelesaikan topik ini hingga selesai. 

Sebelum melanjutkan ke topik berikutnya, mari merefleksikan apa yang telah Anda pelajari. 

Berdasarkan pemahaman Anda mengenai prinsip dan strategi pembelajaran Tahun Ajaran 2021/2022 untuk Guru, apa prioritas perubahan yang akan Anda lakukan berbeda dari pembelajaran yang sudah Anda lakukan di Tahun Ajaran yang lalu? Silakan tulis refleksi Anda dalam jurnal pribadi Anda.

Setelah ini, Anda dapat melanjutkan proses belajar ke topik berikutnya, yaitu Rancangan Pembelajaran Kelas dan Mata Pelajaran Tahun Ajaran 2021/2022 untuk Guru.

Memahami Alur Pembelajaran Tahun Ajaran 2021/2022

Setelah menyelesaikan aktivitas 1, 2, dan 3 diharapkan Bapak dan Ibu Guru semakin memiliki pemahaman yang utuh mengenai konsep, prinsip dan pilihan strategi pembelajaran sehingga Anda memiliki solusi untuk mendukung murid tetap belajar di Tahun Ajaran 2021/2022.

Pada aktivitas ini kita akan lebih jauh menggali pemahaman mengenai alur pembelajaran Tahun Ajaran 2021/2022 sebagai sebuah kenormalan baru dalam pembelajaran yang memungkinkan guru dan peserta untuk tetap produktif melakukan pembelajaran dengan tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan.

Dari bagan diatas, Anda dapat mempelajari alur pembelajaran di masa pandemi COVID-19 dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Asesmen Diagnosis.
    Asesmen diagnosis dilakukan sebelum pembelajaran untuk mengetahui kondisi psikososial dan penguasaan pelajaran oleh peserta didik sebagai dasar bagi guru dalam melakukan penyesuaian tujuan, asesmen, dan strategi pembelajaran. Asesmen diagnosis disarankan dilakukan dalam bentuk sederhana, tidak berisiko dan tidak menentukan nilai akhir peserta didik. 
  2. Orientasi Kesiapan Belajar & Psikososial
    Ini merupakan sebuah upaya yang dilakukan guru melalui sejumlah aktivitas yang bertujuan untuk membangun kesiapan psikososial peserta didik, menumbuhkan minat belajar, dan memahami tujuan pembelajaran yang akan dicapai sehingga peserta didik siap melakukan pembelajaran.
  3. Pembelajaran (PTM/PJJ)
    Serangkaian aktivitas baik pembelajaran tatap muka maupun pembelajaran jarak jauh dirancang berdasarkan hasil asesmen diagnosis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
  4. Asesmen Formatif
    Asesmen ini dilakukan pada pertengahan pembelajaran untuk mengetahui capaian belajar peserta didik sebagai dasar dalam melakukan penyesuaian dan perbaikan pembelajaran guna memastikan pencapaian tujuan pembelajaran. Asesmen formatif disarankan dilakukan dalam bentuk sederhana, tidak berisiko dan tidak menentukan nilai akhir peserta didik. Durasi alur pembelajaran dapat disesuaikan dengan bobot tujuan pembelajaran dengan prinsip semakin pendek durasi akan semakin efektif (kurang lebih 2 minggu) karena guru bisa segera mengetahui apa yang sudah dicapai dan apa yang belum tercapai untuk melakukan perbaikan pembelajaran.
  5. Perbaikan atau Pengayaan Pembelajaran (PTM/PJJ)
    Serangkaian aktivitas perbaikan atau pengayaan dapat dilakukan berdasarkan hasil asesmen formatif kepada peserta didik yang membutuhkan dukungan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
  6. Asesmen Sumatif
    Serangkaian aktivitas dilakukan untuk menentukan penguasaan tujuan pembelajaran oleh peserta didik di akhir alur pembelajaran. 

    Untuk memahami asesmen diagnosis yang bertujuan mengetahui kondisi psikososial dan perkembangan kompetensi peserta didik, silakan unduh dan pelajari dokumen terkait asesmen diagnosis dari Pusmenjar melalui tautan berikut ini:

Asesmen di awal pembelajaran : http://ringkas.kemdikbud.go.id/asesmenawal
Asesmen kognitif berkala : http://ringkas.kemdikbud.go.id/asesmenberkala
Asesmen jenjang dasar menengah: http://ringkas.kemdikbud.go.id/asesmensdsma

Prinsip-prinsip Pembelajaran Tahun Ajaran 2021/2022

Bapak/Ibu, Anda telah memahami konsep pengelolaan pembelajaran Tahun Ajaran 2021/2022. Pada konsep tersebut, prinsip menjadi salah satu bagian penting yang perlu diperhatikan. Mengapa  demikian?

Prinsip pembelajaran diperlukan sebagai pedoman dalam merencanakan, melakukan dan mengembangkan pembelajaran Tahun Ajaran 2021/2022 pada masa pandemi COVID-19. Kepala satuan pendidikan dan guru diharapkan dapat menilai kesesuaian praktik pembelajaran yang terjadi dengan prinsip pembelajaran untuk memastikan semua peserta didik merasakan manfaat pembelajaran di Tahun Ajaran 2021/2022. Dengan demikian, guru dan kepala satuan pendidikan memiliki acuan dalam melakukan perbaikan praktik pembelajaran sesuai prinsip pembelajaran yang telah ditetapkan. Selain itu, prinsip pembelajaran membantu guru memilih strategi pembelajaran yang tepat yang sesuai dengan prinsip pembelajaran.

Berikut ini adalah prinsip-prinsip yang perlu menjadi landasan pembelajaran Tahun Ajaran 2021/2022.

1. Siklus Pembelajaran 

Siklus Pembelajaran menggambarkan hubungan tiga komponen penting yaitu kurikulum, asesmen dan pembelajaran. Keselarasan antara tiga komponen tersebut akan menggerakkan pembelajaran untuk memastikan pencapaian kompetensi oleh peserta didik. Setiap kepala satuan pendidikan dan guru mempunyai peran penting menjamin keselarasan ketiga komponen tersebut.

Kurikulum sebagai seperangkat tujuan pembelajaran menjadi acuan dalam menetapkan proses asesmen dan proses belajar. Proses asesmen dan proses belajar berinteraksi timbal balik. Tujuan dan jenis asesmen menjadi dasar dalam merancang pembelajaran. Hasil belajar akan dinilai dalam proses asesmen. Hasil asesmen digunakan untuk menyesuaikan pembelajaran. Pada ujung akhirnya, pembelajaran dan asesmen akan menjadi umpan balik untuk pengembangan kurikulum. 

2. Prinsip Pembelajaran. Prinsip ini merupakan prinsip kedua yang perlu dipahami oleh guru sebagai landasan pertimbangan sebelum menentukan strategi dan metode  pembelajaran, dimana pembelajaran haruslah berorientasi pada anak, berorientasi pada keterampilan hidup, bermakna dan berdiferensiasi, memberikan umpan balik, dan inklusif.

3. Prinsip Asesmen. Hal-hal yang perlu dipahami guru dan pendidik mengenai asesmen antara lain adalah:

4. Pola Pikir Bertumbuh pada Asesmen pun perlu terus dipertimbambangkan sebagai landasan guru dan peserta didik dalam melakukan asesmen.

Bapak/Ibu mari jadikan prinsip-prinsip ini sebagai landasan merancang dan mengimplementasikan pembelajaran mulai Tahun Ajaran 2021/2022. Semangat melakukan perubahan!

Ketentuan Pokok Penyelenggaraan Pembelajaran di Tahun Ajaran 2021/2022

Bapak/Ibu guru telah menyelesaikan topik pembahasan yang ke-2. Setelah memahami latar belakang, landasan hukum, tujuan dan manfaat, ruang lingkup, serta ukuran keberhasilan pembelajaran pada masa pandemi COVID-19, pada topik ini kita akan bersama-sama mempelajari bagaimana ketentuan pokok penyelenggaraan pembelajaran di Tahun Ajaran 2021/2022. 

Berdasarkan SKB 4 Menteri yang ditetapkan pada 30 Maret 2021, ada 9 ketentuan pokok Pembelajaran pada Masa Pandemi COVID-19, yaitu:

  1. Penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemi COVID-19 dilakukan dengan:
    1. pembelajaran tatap muka terbatas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan; dan/atau
    2. pembelajaran jarak jauh.
  2. Dalam hal pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan telah divaksinasi COVID-19 secara lengkap, maka pemerintah pusat, pemerintah daerah, kantor wilayah Kementerian Agama provinsi, kantor Kementerian Agama kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya mewajibkan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi di wilayahnya menyediakan pembelajaran tatap muka terbatas dan pembelajaran jarak jauh.
  3. Orang tua/wali peserta didik dapat memilih pembelajaran tatap muka terbatas atau pembelajaran jarak jauh bagi anaknya.
  4. Penyediaan layanan pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam poin nomor 2 di atas dilaksanakan paling lambat tahun ajaran dan tahun akademik 2021/2022.
  5. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, kantor wilayah Kementerian Agama provinsi, kantor Kementerian Agama kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya wajib melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam poin nomor 1. 
  6. Dalam hal berdasarkan hasil pengawasan di atas ditemukan kasus terkonfirmasi COVID-19 di satuan pendidikan, maka Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Kantor Wilayah Kementerian Agama provinsi, Kantor Kementerian Agama kabupaten/kota, dan kepala satuan pendidikan, wajib melakukan penanganan kasus yang diperlukan dan dapat memberhentikan sementara pembelajaran tatap muka terbatas di satuan pendidikan. 
  7. Dalam hal satuan pendidikan belum dapat memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada poin nomor dua di atas, maka penyelenggaraan pembelajaran pada satuan pendidikan mengacu pada SKB yang diterbitkan pada tanggal 30 Maret 2021 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).
  8. Dalam hal terdapat kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran COVID-19 pada suatu wilayah tertentu, maka pembelajaran tatap muka terbatas dapat diberhentikan sementara sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan dalam kebijakan dimaksud.
  9. Ketentuan mengenai Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) tercantum dalam Lampiran SKB bit.ly/skb4menteri2021 

Untuk lebih memberikan pemahaman yang utuh mengenai ketentuan pokok penyelenggaraan pembelajaran Tahun Ajaran 2021/2022, mari kita simak video berikut ini. https://youtu.be/_RfgwBzQAnA

Materi Belajar Mandiri

Hallo Bapak/Ibu

Sebelum kita bertemu di sesi webinar, silahkan Bapak/Ibu membaca materi pengantar berikut tentang Penerapan Kelas Campuran

Pengertian

Kelas Campuran adalah kelas yang menerapkan pembelajaran campuran sehingga murid mendapatkan pengalaman belajar yang optimal. Dengan mengadaptasi konsep dari Catlin R. Tucker dkk (2017) maka Bukik Setiawan (2021) mendefinisikan Pembelajaran Campuran (Blended Learning) sebagai program pendidikan yang memfasilitasi murid belajar dengan memenuhi 4 ciri ini:

  1. Setidaknya mengikuti pembelajaran asinkron yang memungkinkan murid merdeka mengatur waktu, tempat, alur dan tempo belajarnya;
  2. Setidaknya mengikuti pembelajaran sinkron dengan pendampingan guru pada suatu waktu dengan moda belajar tertentu;
  3. Menghubungkan beragam modalitas program/mata pelajaran menjadi suatu pengalaman belajar terintegrasi;
  4. Membantu murid menjadi pelajar merdeka belajar (komitmen pada tujuan, mandiri pada cara dan reflektif) dalam mencapai sasaran belajar yang disepakatinya.

Dengan pengertian tersebut, murid yang mengikuti pembelajaran campuran bisa mengalami pembelajaran sebagai berikut:

  1. Murid melakukan pembelajaran mandiri dengan menyaksikan materi video pembelajaran di rumah. Murid bisa memilih jadwal kapan akan nonton video tersebut. Bila sedang ada urusan lain, murid bisa membuat jeda dan dilanjutkan lagi bila sudah selesai urusannya. Setelah itu, murid mengerjakan tugas yang diberikan guru.
  2. Guru meminta murid mempresentasikan tugas yang telah dikerjakan dan mendapatkan umpan balik sesuai hasil pengerjaan murid. Guru bisa memberikan umpan balik terkait materi maupun terkait semangat belajar murid.
  3. Guru memastikan beragam metode dan media belajar yang digunakan agar terhubung dan menjadi satu kesatuan yang terintegrasi. Jangan sampai pembelajaran sinkronnya tidak terkait dengan pembelajaran asinkronnya.
  4. Guru menyediakan sejumlah alat bantu yang membantu murid bisa mengatur jadwal dan pola belajarnya baik di sekolah maupun di rumah. Pada akhir pelajaran, guru memandu murid melakukan refleksi tentang apa pengalaman belajar atas inisiatif sendiri? Apa yang membuat belajar atas inisiatif belajar bisa lebih bersemangat?

Miskonsepsi Pembelajaran Campuran

  1. Miskonsepsi 1

Pembelajaran Campuran adalah inovasi yang lebih berkaitan dengan teknologi dibandingkan dengan pedagogi.

Tanggapan

Pembelajaran Campuran TIDAK BISA dilakukan hanya dengan teknologi yang kekinian bila pedagogisnya ketinggalan zaman. Guru bukan hanya menguasai teknologi tapi juga pedagogi seperti kelebihan dan kelemahan setiap metode belajar sebelum memilih metode belajar yang paling sesuai kebutuhan murid.

  • Miskonsepsi 2

Pembelajaran Campuran TIDAK BISA digunakan untuk pengembangan karakter, terutama pada murid kelas bawah.

Tanggapan

Banyak bukti menunjukkan Pembelajaran Campuran memfasilitasi murid lebih aktif, lebih paham tujuan belajar, lebih mandiri belajar dan lebih reflektif. Dengan pembelajaran campuran, murid mendapat kesempatan mengatur sendiri pembelajarannya. Kesempatan ini penting bagi murid agar bisa mengembangkan kemampuan pengaturan pembelajaran secara mandiri.

  • Miskonsepsi 3

Pembelajaran Campuran akan menghilangkan peran guru.

Tanggapan

Pembelajaran Campuran mengubah peran guru untuk menjadi lebih berempati, lebih kreatif, lebih berdaya dan lebih melibatkan. Itulah guru merdeka belajar.

Mengapa Pembelajaran Campuran?

  1. Pembelajaran Campuran menjanjikan pembelajaran yang optimal karena bisa menyediakan pengalaman belajar kepada murid sesuai kebutuhan dan pola belajarnya.
  2. Pembelajaran Campuran bersifat lebih luwes baik untuk memenuhi kebutuhan murid, ketersediaan fasilitas belajar, keragaman akses internet maupun kondisi pandemi yang tidak pasti.
  3. Pembelajaran Campuran lebih memungkinkan bagi guru untuk memandu murid dalam menguasai 4C Kompetensi Abad ke-21 yaitu Critical Thinking, Creativity, Collaboration dan Communication.

Bagaimana Perbandingan Antara Pembelajaran Sinkron dan Pembelajaran Asinkron?

Pembelajaran SinkronPembelajaran Asinkron
Pengertian Pembelajaran yang menghadirkan murid dan guru pada waktu yang bersamaan sehingga memungkinkan interaksi langsung antara murid dengan guru, murid dengan murid atau murid dengan narasumber lain dipandu oleh guru. Meski sering diasosiasikan dengan luring, pembelajaran sinkron bisa dilakukan secara daring.Pengertian Pembelajaran yang memungkinkan murid belajar tanpa butuh kehadiran guru pada waktu bersamaan sehingga murid bisa mengatur waktu, tempat, alur dan tempo belajarnya. Pembelajaran asinkron bisa dilakukan secara luring maupun secara daring.
Metode yang Disarankan Praktik: Murid menerapkan suatu prosedur dengan peralatan khusus. Diskusi: Murid melakukan tukar pikiran dalam atau antar kelompok. Refleksi Bersama: Murid menandai dan menilai proses dan capaian belajar secara kolektif. Umpan Balik: Murid memberikan umpan balik terhadap tugas atau proyek murid.Metode yang Disarankan Penguasaan Materi: Murid mempelajari materi secara mandiri. Tugas Kontekstual: Murid mengerjakan tugas yang terkait dengan kehidupan atau lingkungan di sekitarnya. Proyek Kolaborasi: Murid mengerjakan suatu tugas yang membutuhkan kolaborasi dengan murid lain. Refleksi Personal: Murid menandai dan menilai proses dan capaian belajar secara personal.
Kelebihan Aktivitas belajar interaktif. Guru bisa melakukan komunikasi interaktif dengan murid. Antusiasme belajar. Guru bisa menumbuhkan antusiasme belajar murid. Umpan balik sesuai kebutuhan. Guru bisa melakukan personalisasi umpan balik sesuai kompetensi murid.Kelebihan Fleksibilitas jadwal. Murid bisa mengatur jadwal belajarnya secara mandiri. Tempo tergantung murid. Murid bisa memegang kendali terhadap tempo belajarnya. Umpan balik instan. Murid bisa mendapatkan umpan balik secara instan, tidak menunggu respon guru.
Kelemahan Jadwal yang kaku. Satu jadwal yang sama untuk semua murid. Tempo tergantung guru. Tempo pembelajaran seringkali sangat tergantung pada guru. Kehadiran dan kualitas guru. Ketergantungan pada kehadiran dan kualitas guru.Kelemahan Perasaan terisolasi. Murid berpotensi merasa sendirian dan terasing dari lingkungan sekitar. Penurunan antusiasme. Murid mungkin mengalami kehilangan semangat belajar. Kualitas bahan ajar. Ketergantungan pada ketersediaan bahan ajar yang berkualitas.

Memilih Pembelajaran Campuran

  1. Kebutuhan belajar murid. Apakah murid butuh belajar dari pengalaman nyata (sinkron/asinkron) atau butuh umpan balik langsung dari guru untuk belajar (sinkron)?
  2. Kemandirian belajar. Apakah guru harus menjelaskan/memperagakan pelajaran secara langsung atau penjelasan/peragaan bisa ditampilkan melalui media poster/video?
  3. Tujuan pembelajaran: Apakah mempelajari konsep dasar (asinkron) atau mempelajari konsep dalam suatu konteks yang kompleks (sinkron)?
  4. Karakteristik umpan balik. Apakah umpan balik bisa dibuat otomatis buat semua murid (asinkron) atau umpan balik perlu dipersonalisasi sesuai kompetensi murid (sinkron)?
  5. Ketersediaan waktu murid. Apakah murid bisa hadir bersamaan pada suatu waktu (sinkron) atau ada murid yang kesulitan hadir pada waktu bersamaan (asinkron)?

Integrasi Pembelajaran Campuran

  1. Komposisi pembelajaran yang direkomendasikan 1 : 3 antara sinkron dengan asinkron. Artinya, untuk setiap 1 jam pembelajaran sinkron direkomendasikan dicampur dengan pembelajaran asinkron sebanyak 3 jam. Meski demikian, guru bisa melakukan penyesuaian berdasarkan kebutuhan murid, karakteristik dan tujuan pembelajaran.
  2. Padukan sinkron dan asinkron untuk mengoptimalkan kelebihan dan mengantisipasi kelemahan masing-masing strategi. Gunakan sudut pandang murid untuk memahami kelebihan dan kelemahan pembelajaran sinkron dan asinkron. Pertimbangkan kelebihan dan kelemahan pembelajaran sinkron dan asinkron sebelum memilih strategi dan metode pembelajaran yang tepat.
  3. Pandu murid memadukan pelajaran yang didapatkan dari pembelajaran asinkron dengan proses belajar sinkron serta sebaliknya. Pada setiap awal fase pembelajaran, kaitkan dengan pengalaman murid mengikuti fase pembelajaran sebelumnya. Bangun jembatan penghubung yang mengaitkan pembelajaran sinkron dan asinkron.

Ilustrasi Pembelajaran Campuran

Ilustrasi 1: Guru Budi

Guru Budi sedang membuat rancangan pelaksanaan pembelajaran untuk tujuan belajar terkait bidang datar. Ia berencana melakukannya dengan strategi pembelajaran campuran. Setelah berpikir, ia membuat alur pembelajaran campurannya seperti ini:

Fase 1: Pembelajaran sinkron

  1. Luring. Guru Budi mengadakan Pertemuan Tatap Muka Terbatas yang diisi dengan kegiatan orientasi untuk menumbuhkan minat murid terhadap bidang datar. Ia menunjukkan sejumlah contoh bidang datar dan meminta murid menyebutkan ciri-cirinya. Dari diskusi tersebut, Guru Budi meminta salah seorang murid merumuskan pengertian bidang datar.

Fase 2: Pembelajaran asinkron

  1. Daring: Guru Budi menugaskan murid mempelajari materi bacaan tentang bidang datar dari bahan ajar yang disediakan guru maupun dari sumber lain.
  2. Daring: Guru Budi memberikan asesmen formatif tentang bidang datar agar murid mengetahui sendiri materi yang sudah dan belum dikuasainya. Berdasarkan hasil asesmen formatif, murid bisa mengetahui bagian mana yang masih perlu dipelajarinya.

Fase 3: Pembelajaran sinkron

  1. Luring. Guru Budi meminta murid membawa contoh bidang datar yang mudah dibawa dan mudah didapatkan di lingkungan sekitar. Guru Budi mengajak murid menghitung luas dari bidang datar yang dibawanya. Setelah itu, perwakilan murid mempresentasikan caranya menghitung luas bidang datar.

Ilustrasi 2: Guru Dila

Guru Dila sedang berpikir bagaimana membantu murid menguasai kompetensi terkait menelaah struktur dan kebahasaan teks narasi (cerita imajinasi) yang dibaca dan didengar. Karena pandemi, Guru Dila mempertimbangkan untuk menggunakan pembelajaran campuran. Ia pusing karena belum pernah melakukannya. Tapi setelah berdiskusi dengan rekan guru yang lain, Guru Dila merumuskan tahapan belajarnya seperti ini:

Fase 1: Pembelajaran asinkron

  1. Daring: Guru Dila memberikan akses daring (online) kepada murid terhadap teks narasi (cerita imajinasi). Guru Dila meminta murid menelaah struktur dan kebahasaannya melalui komentar di dokumen daring tersebut. Dengan melakukan hal ini, Guru Dila bisa mengetahui mana pemahaman muridnya atau bisa disebut juga melakukan asesmen diagnosis.

Fase 2: Pembelajaran sinkron

  1. Luring: Guru Dila memberikan umpan balik terhadap hasil asesmen diagnosis murid yang dikaitkan dengan konsep telaah struktur dan kebahasaan teks narasi (cerita imajinasi).

Fase 3: Pembelajaran asinkron

  1. Daring: Guru Dila menugaskan murid mempelajari materi tentang  telaah struktur dan kebahasaan teks narasi (cerita imajinasi) sebagai pendalaman pemahaman.
  2. Luring: Guru Dila mengatur murid menjadi sejumlah kelompok. Murid yang sudah menguasai disebar ke semua kelompok. Para murid diminta melakukan analisis terhadap dokumen cerita yang sudah dipelajari pada pembelajaran asinkron sebelumnya. Setiap kelompok membuat presentasi hasil diskusi.

Fase 4: Pembelajaran sinkron

  1. Luring: Guru Dila meminta kelompok melakukan presentasi. Pada setiap presentasi, Guru Dila memberikan umpan balik terkait telaah struktur dan kebahasaan teks narasi (cerita imajinasi).

Bahan Bacaan Tambahan:

Ingin mempelajari bagaimana praktik baik oleh Komunitas Guru Belajar menggunakan teknologi secara fleksibel dalam pembelajaran jarak jauh? Baca dan pelajari Surat Kabar Guru Belajar Edisi Sekolah Lawan Corona. Unduh di https://bit.ly/skgurubelajarslc

Ingin mempelajari bagaimana praktik baik oleh Komunitas Guru Belajar  menerapkan merdeka belajar dalam pembelajaran? Baca dan pelajari Surat Kabar Guru Belajar yang membahas merdeka belajar. Unduh di:

  1. Merdeka Belajar – http://bit.ly/skgurubelajar6
  2. Refleksi Belajar – http://bit.ly/skgurubelajar7
  3. Komitmen pada Tujuan – http://bit.ly/skgurubelajar8
  4. Kemandirian Belajar – http://bit.ly/skgurubelajar9
  5. Merdeka karena Biasa – http://bit.ly/skgurubelajar17

Kisi-kisi Materi Sinkron

Pembelajaran Campuran untuk Menerobos Tantangan Pandemi COVID-19

  1. Apa tantangan pembelajaran di masa pandemi COVID-19
    – Ketidakpastian pandemi
    – Keragaman kondisi
    – Penurunan capaian belajar
  2. Apa miskonsepsi dan konsep sebenarnya pembelajaran campuran?
    – Tiga miskonsepsi pembelajaran campuran
    – Empat ciri pembelajaran campuran
    – Pembelajaran sinkron dan asinkron
  3. Mengapa pembelajaran campuran adalah jawaban yang tepat?
    – Pembelajaran pada level yang tepat (teaching at the right level)
    – Pembelajaran yang fleksibel
    – Pembelajaran abad ke-21

Tips Praktis ala @Bukik untuk Manajemen Kelas Campuran

  1. Bangun Kesepakatan Kelas. Setiap murid hadir dengan segala dinamika persoalan, perasaan dan harapan yang beragam. Karena itu penting di awal sebelum pembelajaran, guru membantu murid melakukan orientasi pembelajaran. Apa kondisi yang dibutuhkan murid agar bisa belajar efektif? Kondisi tersebut mencakup kondisi ruang kelas, perilaku teman sekelas hingga perilaku dari guru. Diskusikan dan tentukan 3 – 5 kesepakatan yang dibutuhkan untuk menciptakan kondisi yang kondusif buat belajar.
  2. Mulai dengan Obrolan Ringan. Banyak guru begitu masuk ruang belajar (daring/luring) langsung memulai pembelajaran. Padahal murid ketika masuk ruang belajar sebenarnya sedang mengalami transisi dari lingkungan luar ke lingkungan dalam. Karena itu, penting bagi guru melakukan strategi yang membantu murid melalui masa transisi tersebut. Strategi yang mudah dilakukan adalah mulai dengan obrolan ringan tentang pengalaman murid, kejadian dan isu yang sedang hangat diperbincangkan murid. Melalui obrolan ringan tersebut, sejumlah murid yang awalnya belum memberi perhatian akan perlahan memperhatikan dan terlibat dalam obrolan.
  3. Optimalkan Pilihan. Setiap pilihan metode belajar maupun pilihan teknologi mempunyai aspek kelebihan dan kelemahannya. Pahami kelebihan dan kelemahan setiap pilihan metode/teknologi belajar. Dayagunakan kelebihannya, antisipasi kelemahannya. Pembelajaran melalui grup Whatsapp memang tidak seinteraktif pertemuan tatap muka, tapi ada pula kelebihannya: penggunaan emoticon untuk curhat murid, kesempatan buat murid menulis dan merevisi draf tulisan sebelum diposting, dan fitur reply yang bisa membuat para murid membalas secara langsung pendapat yang ada di grup.
  4. Durasi dan Jeda. Bukan hanya anak-anak, orang dewasa pun mempunyai rentang konsentrasi dalam belajar. Seorang guru bisa mengelola suasana kondusif buat belajar dengan memainkan durasi dan jeda pembelajaran. Pengaturan durasi memastikan murid mempunyai cukup energi memperhatikan dan terlibat pembelajaran. Pengaturan jeda memastikan murid bisa relaks dan menangani urusan lain sebelum kembali lagi ke pembelajaran. Durasi yang disarankan untuk ceramah penyampaian pelajaran antara 15-20 menit dan diselingi dengan jeda 5 menit. Durasi pembelajaran 90 menit diselingi jeda 15 menit.

Jika Anda sudah selesai memahami materi yang diberikan, jangan lupa untuk mengetuk atau mengklik “Mark as Complete” agar bisa melanjutkan ke bagian selanjutnya.

Daftar Nilai Latihan Jelajah Sains Halaman 4-5

No.Nama SiswaMembacaMenulis
1Andi Hudzaifah Al Atsary100B
2Omar Arsyad Zulkarnain100B
3Dzaki Khairi Hilmi90B
4Ayyash Hilal Muhammad100B
5Arjuna Baraka Riznov100B
6Muhammad Yafi Arrayyan100A
7Faikar Aufa Azka100A
8Muhammad Athallah Al Ghifari100A
9Muhammad Fargad100B
10Zidan Pratama Ramadhan100B
11Muhammad Afham Fawwaz100A
12Muhammad Fadlan Al Akmal100B
13Muhammad Rasyad Abdad100A
14 Ahmad Azka Syawal 95A
15Arsyad Hadi Kusuma100B
16Fathan Hylmi Rashdan100A
17Muhammad Radik100B
18Danial100B
19Alta Az Zubair Aldino100B
20Muhammad Rizqy Fauzan100B
21Muhammad Nabil Azzaki100B
22Nabil Abiyyu
23Muhammad Akhtar
24Edric Saum Hadi –
25Gandy Turnell Prosperoshi –
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai